Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Desember 2014

Posted by Akbar Wicaksono | File under :

Nggak terasa sudah 2 tahun, serasa baru kemarin nge-post Happy Anniv yang 1st Years.. 
Alhamdulillah hubunganku dengan dia baik baik aja, masih saling support, saling memberi semangat, saling mengerti, peduli, dan masih sayang juga. 

Kita berusaha bersama-sama, jadi nggak ada yg nunggu sampai salah satu dari kita berhasil, kita berusaha mulai dari nol untuk mencapai kesuksesan bersama, ya semoga aja, itu bukan sekedar harapan. Harus ada tindakan dan disertai niat yang baik.

Jadi, SEMANGAT yah sayang !!
Raih impian, raih kesuksesan..
Together we can :)

Love you ila ({})

Selasa, 31 Desember 2013

Posted by Akbar Wicaksono | File under : , ,


Malam ku menanti
Jam demi jam
Menit ke menit
Bahkan  detik ke detik
Tahun baru yaitu tahun 2014

Berbagai acara demi acara yang telah ku lewati
Ku bahagia
Ku bahagia karena acara keluarga telah terselesaikan dengan lancar
Aku bahagia telah kumpul-kumpul bareng keluarga 
Mulai dari main bareng saudara
Acara bakar bakar ikan dan jagung, dsb

Di tahun 2013
Aku bahagia, selain aku di terima di Sekolah favorit yaitu SMAN 1 Probolinggo
Aku juga senang mendapatkan teman baru 
Banyak teman yang mau berteman denganku
Padahal aku kira banyak yang membenciku

Awalnya di sekolah aku diam
Selalu menyendiri 
Karena masih belum terbiasa ditinggal kekasih
Dulu saat aku masih SMP
Pagi saat sekolah, aku selalu semangat karena bisa melihat muka kekasihku
Dan saat pulang sekolah selalu ditemani oleh nya dengan senyuman manis dari nya

Namun sekarang ini pagi aku terkadang sibuk dengan tugas yang harus di jilid
Menata tugas yang harus terkumpulkan
Dan pulang tanpa ditemani sang kekasih
Lelah
Sebenarnya aku lelah
Pulang harus jam 3 sore bahkan sampai 5 sore
Dengan suasana sekolah yang sangat berbeda jauh dari SMP

Namun demi keluarga
Demi orang tua yang telah mendidik dan membiayai aku serta mendoakan aku
Sehingga aku bisa menjadi seperti ini
Dan dengan support dari orang yang aku sayang
Dengan kelucuannya 
dan yang selalu mendoakan aku juga
Aku bertahan dan akan terus berusaha
Untuk menggapai prestasi

Selain itu
Tahun 2013
Hubunganku sudah sampai 1 tahun bersama dia
Walaupun aku tidak bisa menemui dia
Aku kan tetap bertahan dalam hubungan ini
Karena
Hanya Lailatul Bulgis
Yang bisa membuatku semangat
Menjalani hidup ini
Hanya dia
Yang bisa membuatku bertahan
Yang membuatku tersenyum
Yang selalu bawel serta crewet
Yang kadang nyebelin
Namun itu semua yang membuatku menyayanginya

Dan esok adalah tahun 2014
Dimana aku harus berusaha lebih giat
Untuk lebih baik dari tahun ini (2013)
Walaupun aku tidak selalu bertemu dengan kekasihku
Aku kan tetap semangat

Sayangku
Jangan khawatir
Walaupun jarak kita sekarang yang jauh
Walaupun kita tak sering bertemu bahkan berkomunikasi
Aku akan menjaga hati ini sayang
Karena hati ini hanya untuk kamu
Hanya kamu sayang

Tahun 2014 nanti
Kita harus lebih giat untuk menggapai prestasi
Kita harus berhasil membuat orang tua kita bahagia sayang
Kita sama sama berusaha dan saling mendoakan
Apa yang terbaik

Dan tahun 2014 nanti
Semoga hubungan kita
Hubungan yang telah kita bangun
Tak akan pernah rapuh
Sayangku jangan nakal ya disana
Jangan macem macem disana
Sayang kan tau aku orangnya cemburuan
Jangan buatku cemburu loh
Aku sayang kamu ILA
Aku cinta kamu

Kamis, 05 Desember 2013

Posted by Akbar Wicaksono | File under :
Aku sulit mengerti kenapa dia selalu menjadi daya tarik bagi setiap wanita yang ada di dekatnya.
Aku tidak habis pikir, atau entah aku cemburu…
Setiap hari ada saja perhatianku padanya. Tidak adakah sesuatu yang membuatku merasa ada yang perlu dikerjakan selain memikirkannya?
Aku yang cepat mengambil keputusan terlalu gegabah dan membuatmu kecewa..
Dua hari lalu, seseorang mengetuk pintu dan mengatakan ‘ini maksudnya apa? this is ending?’ dan dia terhenyak saat aku membalik badan dan menutup pintu kembali.
Bulan menyaksikan itu, kemudian hening sampai hari ini..
Selalu aku dengar berita bahagia darinya, mulai rumor tentang dia menjalani kasih dengan gadis yang cantik sampai bahagia dan hampir dijodohkan dengan gadis manis yang orang tuanya menjadi pengusaha sukses.
Aku tidak masalah dengan hal itu sampai aku menemukan sesuatu yang lain saat dia jalan 10 langkah di depanku dengan menggandeng tangan seseorang seakan tak mau lepas.
Saat ini aku menyesal dan ingin kembali di hari itu. Aku tak mau kalau di hari kemudian aku tak bisa melihatnya dan tak pantas merindukannya..
Tangan indah itu menggandeng lengannya yang terlihat cocok dari sini. Temanku, Windi, sudah mengingatkanku sejak tadi untuk berhenti mengikutinya, tapi entah kenapa aku terus mengikuti kemana arah wanita itu menggandeng tangannya dan berharap dia melepaskannya segera. Dua menit setelah aku sadar tak mungkin terlepas, aku berjalan berlawanan arah dan kembali pulang diantar Windi.
Pagi ini aku terlambat, mataku benar-benar ingin tertutup, kantukku tak terbendung setelah semalam tak bisa aku pejamkan mata ini untuk beristirahat sejenak. Windi, aku sempat melihat wajahnya khawatir saat aku terbangun dari tidurku di ruang kesehatan dan pandanganku terlihat bingung.
“Kamu tadi lari-lari, terus bilang pengen tidur, untung pak Wahyu gak masuk, aku anter kesini deh.” Katanya.
Aku tersenyum, tapi dia masih khawatir, aku tau dia mengkhawatirkan aku dari kejadian semalam.
Di kantin pada jam istirahat ini aku akhirnya dapat kesadaran juga setelah tidur hampir 3 jam di ruangan serba putih tadi. Dari tempatku duduk, kira-kira empat bangku dari sini, aku lihat laki-laki yang mengetuk pintu rumahku waktu itu sedang bersama teman-temannya dengan canda tawa mereka seperti biasa. Masih ada tanya, ‘mudahnya aku dilupakan?’ hah.. aku memang yang bersalah. Aku sendiri yang bersikap seolah-olah itu akhir.
Tapi, senyummu dari sini saja sudah membuat aku sadar kenapa wanita-wanita itu selalu ingin dekat dengan laki-laki seperti kamu…
Laki-laki di kantin tadi, laki-laki yang dengan senyumnya membuat wanita ingin dekat itu berdiri dan bersandar pada pintu mobilnya. Seragam putih abunya membuatnya terlihat lebih berwarna bukan hanya dari senyumnya, ‘Dida!’ sapa temannya yang langsung melambaikan tangan tanda ia akan pulang mendahului Dida yang dibalas Dida dengan senyum dan lagi-lagi aku berpikir ingin memiliki senyum itu lagi.
Dida menundukkan wajah sesekali dan melirik ke arah pintu masuk sekolah, seakan menunggu seseorang keluar dari situ, dan benar saja ada yang menghampirinya. Kulihat senyumnya yang manis mengikuti kedatangan wanta itu, tapi sedikit tersirat kecewa.
Sayangnya aku melihat ekspresinya ini hanya dari kejauhan, tepatnya dari arah luar gerbang sekolah…
Esoknya masih seperti kemarin, aku masih ingin melihat Dida, sosok yang selalu senyum dihadapanku, membuatku bahagia tapi aku mengecewakannya karena suatu hal bernama ‘cemburu’. Selama aku bersama Dida, aku benar-benar merasa apa itu arti bahagia, apa itu arti bersama, tapi tidak aku bawa rasa terima atas itu karena kesan yang terlihat di mataku itu semua bukan atas dasar sayangnya. Aku yakin itu setelah melihat dia selalu tersenyum juga di hadapan wanita lain.
Mobil yang akan menjemputku tiba sekitar 40 menit lagi, hah.. sudah bosan aku menantikannya. Sudah lima menit aku menunggu, ’35 menit lagi’ pikirku. Saat-saat menunggu ini terusik saat aku sadar ada yang memperhatikanku dari jauh, mata itu tak lepas memandangiku sejak tadi, seperti menunggu, tapi aku tak menghiraukannya karena malu dan tau itu Dida.
Melihatku dari jauh mungkin tak memuaskannya, akhirnya ia mulai bergerak mendekatiku. Aku benar-benar terusik, tak nyaman dan ingin sekali bergerak menjauh, tapi perasaan mencegah dan aku diam.
“Mau pulang sama aku?” sapanya, lagi-lagi dengan senyum.
“Iya” jawabku singkat.
Dida sedikit menunduk, mungkin ia sadar saat ini aku tak nyaman lagi berada di dekatnya. Saat ini rasanya mungkin seperti cermin yang kupandangi setiap sore yang ada bayangan senja di alam sebrang yang dia tampilkan itu, berambang, tidak jelas dimana tapi itu bukan disini.
Sudah sepuluh menit sejak aku menjawab ‘iya, kami tidak mengatakan satu katapun sampai akhirnya Dida membuka pembicaraan dengan bertanya,
“Masih mau nunggu? atau pulang bareng aku?” kali ini ekspresinya datar.
“Nunggu” jawabku yang masih memikirkan ego.
Kaget aku saat Dida tiba-tiba menggenggam tanganku dan membawaku yang terpaksa mengikuti langkahnya.
Di halaman belakang sekolah, dia menghentikan langkahnya, dia sedikit menundukan wajah lagi, mungkin malu atau ragu atau juga sedang memikirkan awal pembicaraan yang baik denganku. Aku yang melihat wajahnya yang menunduk dengan ekspresi wajahnya yang seperti itu, tak mau lagi menahan untuk tak bicara ‘kenapa’. Dida kembali menemukan nada bicara dan percaya dirinya untuk bicara.
“Setiap hari aku harus khawatir sama kamu, tapi aku baru tau kenapa, dan aku disini mau minta maaf, selain maaf belum ada yang bisa aku bilang lagi”
“Memang aku juga yang berlebihan”
“Jadi?”
“Aku juga minta maaf”
Ekspresi wajah Dida berubah bahagia setelah mendengar kalimat terakhir yang aku katakan.
Seketika aku berpikir, Dida tidak pernah ingin aku jauh dariku.
Tapi Dida tidak lagi menampakkan wajah khawatirnya walaupun aku pergi mulai berjalan meninggalkannya. Mungkin itu berarti dia yakin aku juga masih merasakan hal yang sama dengannya.
Istirahat hari ini terasa sangat ringan dari kemarin, aku benar-benar merasa ini istirahat yang paling istimewa walaupun aku sadar hanya beberapa menit saja luang waktu untuk sejenak bersantai ini.
Dari sini aku melihat Dida dengan ekspresi bahagianya setelah memasukkan bola ke ring. Dida tidak lagi tersenyum dengan sedikit corak wajah tak bahagia, aku yakin setelah ini Dida akan kembali pada ekspresinya saat dia bersamaku.
Tapi aku lupa, wanita yang pernah digandengnya, siapa?
Sampai Windi mengingatkan aku tentang itu dilorong sekolah saat kami berjalan menuju pulang.
Aku menghela nafas dan mengingatnya lagi…
Hah, aku tidak percaya, bahagiaku terusik lagi.
Baru beberapa menit lalu aku mendengar Windi mengingatkanku akan hal itu, aku lihat Dida tersenyum di depan wanita yang waktu itu kulihat sedang menggandeng tangannya.
Hari ini aku tersadar lagi dan pergi menjauh tanpa berani menatap Dida lagi.
Setelah hari yang membuatku bungkam lagi itu, tidak pernah ada lagi kontak mata ataupun komunikasi antara Dida dan aku. Tapi ekspresinya tidak lagi seperti gundah. Wajahnya kali ini tetap bahagia seperti setelah mendengar aku meminta maaf padanya, seolah tidak ada lagi yang perlu dicemaskannya dan aku baik-baik saja.
Aku berpikir lagi, ini bukan berarti dia bahagia karena aku memaafkanya atau karena aku meminta maaf padanya, tapi ini karena ada sesuatu yang lebih membahagiakan dari itu.
Aku takut, takut sekali, takutku belum terbayar bahkan sekalipun aku mendengar aku lulus dari ujian nasional.
Hari ini, sudah dua bulan setelah hari-hari yang mengambang itu. Sudah kuduga Dida memang tidak lagi mau aku menjadi khawatirnya. Semua khawatirnya tentangku, membatasinya untuk bebas. Aku sadari itu setelah aku tak lagi melihatnya sampai hari ini.
Aku tak tau dimana dia, apa kabarnya saat ini, apa yang sedang dia lakukan, bahkan Windi yang selalu mudah mendapat info pun masih belum tau dimana Dida.
Tapi aku yakin Dida bahagia, karena terakhir kali aku melihatnya begitu.
Dida tidak lagi di sampingku, Dida tidak tahu ada dimana, tapi aku masih ditemani bayang-bayangnya. Malam ini aku ada janji dengan Windi setelah dia mengirim pesan singkat yang isinya membuatku penasaran untuk datang ke tempat kami biasa bersantai, cafe dekat taman kota ini.
Dalam perjalananku ke cafe itu, aku melihat wanita yang digandengnya waktu itu yang sampai saat ini membuatku cemburu. Wanita yang dengan wajah menunggu, bersandar di kursi taman kota.
Sejenak aku berpikir, wanita itu ada disini, Dida pasti disini juga. Sedang berpikir seperti itu, Dida datang dan menghampirinya. Seperti sebelumnya Dida tersenyum duduk di dekatnya dengan kemudian memasang wajah sedih dan menenangkan wanita di sampingnya.
Aku tau ada masalah yang membuat Dida memasang wajah itu. Aku memang selalu tak berpikir panjang, malah semakin ingin mendekat dan mengetahui isi pembicaraan mereka, tapi kemdian aku diingatakn Windi lagi dengan pesan singkatnya yang membuat handphone ku bergetar.
Kembali aku menuju cafe di dekat taman kota ini.
Aku benar-benar malu, aku gugup, kali ini aku diluar kendali, aku ingin menangis, Windi kemudian menenangkanku setelah sebelumnya ia mengatakan,
“Dida itu punya sepupu dan wanita yang sama Dida itu pacar sepupunya”
Aku menyesal dengan ucapanku dikala rintik hujan membasahi Aku dan Dida di tengah lapangan basket hari itu, aku tau aku kalah dengan emosi yang terbungkus cemburu sampai Dida seperti mematung setelah aku melepas satu tangannya yang memegang pundakku yang kemudian berucap “Dida, kita putus” setelah itu dengan mata berkaca aku meninggalkan Dida.
Dida, aku menyesal, aku ingin hari itu kembali, hari dimana rintik hujan itu beramai-ramai menghentikan aku tuk berucap hal yang menghentikan kebersamaan kita. Sekarang aku yang berekspresi mematung menggantikan Dida di hari itu. Tapi aku yakin penyesalan ini tidak akan mengembalikan senyummu seperti saat maafku terucap atau bahkan seperti saat kita bersama.
Haha, sudah sampai dimana kita? Jika ini sandiwara, sudah sampai di episode berapakah?
Yang jelas, aku berpikir, sepertinya ini episode terakhir dari kepastian hubunganku dengan Dida.
Aku di fakultas seni, dan Dida di Fakultas Kedokteran. Aku baru tahu itu setelah dua bulan kami ada di Universitas yang sama.
Masih saja ada yang menggangguku, tentang apa kabarnya senyum Dida itu?
Apakah sudah dimiliki wanita lain?
Hari ini aku di rumah, ditinggal mama dan papa yang terbang ke Bali untuk bisnis dan berlibur.
Dua hari ini aku tidak mengisi waktu dengan kuliahku sampai Windi pun lelah mengingatkanku untuk berhati-hati dengan kehadiranku karena kuis minggu depan.
Acara televisi hari ini tidak ada yang menghibur, bahkan lawakan yang dulu hanya dengan melihat pemerannya saja sudah membuatku tertawa tidak lagi ada daya tariknya. Mataku hanya tertarik melihat acara televisi yang kupindah-pindah sampai teralihkan aku sejenak karena pintu rumah yang diketuk dengan cukup keras. Kakak memang selalu seperti itu kalau pintu rumah terkunci.
“Hai” sapa orang dibalik pintu saat aku membukakan pintu untuknya.
Kupikir kakaku yang setiap malam baru pulang berolahraga untuk membuat badannya berotot itu kala mama bertanya kenapa malam-malam, tapi ini sosok lain.
“Dida?” tanyaku heran yang kusembunyikan perasaan bahagia di kedalaman hati.
“Apa kabar?” tanyanya yang masih selalu didampingi dengan senyumnya.
“Kenapa kesini?”
“Haha, gak bisa tahan kangen lagi”
Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas aku tau, dia sedang berusaha menjelaskan perasaannya padaku melalu kata-kata yang dengan hati-hati dipasangkannya untuk menjadi kalimat yang baik kudengar sehingga aku tak menutup pintu lagi seperti malam itu.
“Aku boleh masuk?”
“Disini aja”
Aku takut jika aku dan Dida berpindah dari tempat saat kami memulai bicara, akan canggung untuk memulai pembicaraan lagi, terlebih lagi itu di dalam rumahku, di ruang tamu yang pastinya aku harus duduk didekatnya berhadapan atau di sampingnya.
Dida meyakinkan aku dengan senyumnya kemudian memegang tanganku, menarikku ke dalam dan duduk.
“Ganti baju, aku tunggu!” perintahnya dan aku turuti.
Aku masih mengutamakan egoisku, tak mau Dida berpikir aku berpenampilan baik hanya untuk membahagiakannya. Sepuluh menit dia menunggu. Aku menghadiahinya penampilan sederhanaku saja, tidak sesederhana dipandangannya karena wajahnya kemudian tersenyum menyambut aku hadir kembali di hadapannya tanpa mengenakan pakaian santai untuk di rumah lagi.
Aku digandengnya, jari-jariku digenggam erat jari tangannya, membuatku yakin ini Dida yang masih sayang aku.
Aku digandengnya sampai di halaman dekat rumah. Di halaman ini dulu dia pernah memintaku menjadi seseorang dengan sebutan ‘kekasih’ untuknya, “Aku gak punya bahasa yang lebih manis, tapi God never know that i love you, ah sorry, God ever know that i love you” katanya dulu.
Kujawab “yes, I never know, but in the end I ever know and I love you too”
Dan Dida mengulangi hari itu dengan kata yang lebih manis.
“Sorry, sebenernya malu, tapi, haha.. I LOVE YOU again”
Aku tak bisa menjawabnya kali ini, ucapannya terlalu manis, aku hanya tersenyum, membuka jalan kemabali menuju kebersamaan dengan Dida, dan aku yakinkan, aku tak mau lagi melepasnya hanya karena cemburu…
Sepotong ingatan yang kujadikan memory terindah tanpa resiko yang akan membuatnya kembali biru…
Cerpen Karangan: Nanda Utamidewi
Blog: nandautamidewi.blogspot.com
Always with ‘hahaha’ expression..

Sabtu, 23 November 2013

Posted by Akbar Wicaksono | File under :
Namaku altha. aku baru saja lulus SD. perkiraanku jadi anak smp itu asik dan seru. setelah hari pertama aku masuk di smp. rasanya sih biasa saja. mungkin karena aku belum terlalu akrab sama teman baruku kali ya.
Waktu istirahat pun tiba. karena aku tidak terlalu akrab aku hanya bisa duduk duduk saja di lapangan sambil memakan makanan yang baru ku beli dari kantin. tidak lama kemudian ada anak cewek yang mengajakku berkenalan, nama nya sekar.

Rabu, 20 November 2013

Posted by Akbar Wicaksono | File under : , ,
20 November 2013

Disini, ditempat aku tinggal yaitu kota kecil Probolinggo yang sedang mengalami musim hujan
Hampir setiap hari di kota ini hujan, dan apa boleh buat jika sepulang sekolah selalu kehujanan
Namun Musim hujan kali ini aku merasa sedih
Sangat sedih

Musim hujan saat ini, aku tidak ditemani oleh seseorang yang aku sayang
Musim hujan saat ini harus aku lalui sendiri
Tak seperti dulu
Dia yang selalu menemaniku dalam hujan ini
Dalam guyuran air yang membasahi tubuh ini

Selasa, 19 November 2013

Posted by Akbar Wicaksono | File under :
Pagi itu udara sedikit mendung, cuaca pun terasa lebih dingin dari hari-hari biasanya. Hal ini membuat sebagian mahasiswa yang ada di sofiah kost tampak begitu malas bergerak dari tempat tidur mereka. Namun tidak bagi seorang mahasiswa yang bernama Bayu. Bayu Bramanthio, begitu nama lengkapnya.
Mendung di pagi itu seakan tak menyurutkan langkahnya untuk berangkat ke kampus. Dengan langkah pasti ia mengayunkan kakinya ke kampus tempat ia kuliah.

Senin, 11 November 2013

Posted by Akbar Wicaksono | File under : ,
Taukah kau sayang

sekarang ku menangis

karna cerita cinta kita tak seperti dulu lagi

Aku merindukan kasih mu yang dulu

Ku merindukanmu yang waktu dekat denganku

Kau yang selalu membuatku semangat
Kau tak membuatku sakit

Jumat, 08 November 2013

Posted by Akbar Wicaksono | File under : ,
Jum'at 08 November 2013

Disini, dikamar ini aku terdiam, aku merenung, aku menyesal
Kenapa aku bisa jadi seperti ini~

Dulu aku kira dialah orang yang tepat untukku
Aku kira dia adalah orang yang dapat mengerti perasaanku
Dulu aku sangat menyukai nya, sangat mencintai dan menyayanginya
Dan sejak tanggal 12 Desember 2012 aku sudah berstatus pacaran dengannya
Aku sejenak merasakan bahagia karnanya
Aku merasa senang karena dia juga menyayangi aku dan dapat mengerti perasaanku
Dia setia menemaniku dalam kesepian hidup yang kualami
Posted by Akbar Wicaksono | File under :
Hoaaaammm.. Aku terbangun seiring dengan bunyi alarm. Aku bangun dengan langkah sempoyongan dan bergegas berjalan ke kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah ke jenjang berikutnya, SMA, yang berarti menandakan sudah berlalunya proses MOS yang mengerikan itu. Horeee seruku dalam hati. Saking bersemangatnya, aku memakai baju secepat kilat hingga membuat kegaduhan. Tapi karena aku anak tunggal, tidak ada yang mengomeliku karena kegaduhan itu.

Kamis, 07 November 2013

Posted by Akbar Wicaksono | File under :
Cintaku indah seindah suara yang kau lantunkan dari bibir merahmu, cintaku sejati bagaikan karang yang di hempas ombak, cintaku putih, seputih berlian dan mutiara yang bersinar. Namun, cintaku hancur dan hilang ketika dirimu berpaling menjauh.
Pagi itu, aku dipanggil temanku ke lapangan untuk olahraga pagi, ia ingin aku juga ikut bersamanya, tetapi pada saat itu aku nggak tahu ia mau ngapain… “risky, ayo kita pergi ke lapangan!” ajak feri, “iya tunggu dulu, aku mau cuci muka dulu yah” balasku padanya dengan perasaan yang masih ngantuk. “Baiklah tapi jangan pake lama yah”

Rabu, 06 November 2013

Posted by Akbar Wicaksono | File under :
Aku membuka mataku. Ku rasakan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku dimana? Batinku. Kulihat ke sekeliling ruangan ini. Semua dindingnya berwarna putih. Sepertinya aku di rumah sakit. Tapi, apa yang terjadi? Ketika aku meraba kepalaku, ku sadari ada perban yang melilit dahiku. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi.
Dua hari yang lalu aku sedang mengendarai sepedaku. Itu hal pertama yang ku ingat. Kemudian aku melihat seseorang di jalan yang ku lewati. Ya, aku melihat Dana. Tapi, ia tak sendiri. Di sampingnya ku lihat seorang gadis yang seumuran denganku sedang berbicara manja kepadanya. Kepingan ingatanku mulai kembali.
Posted by Akbar Wicaksono | File under :
Hari itu merupakan hari pengumuman kelulusan bagi anak-anak kelas 3 SMP. Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap anak. Begitu pula denganku. Aku tidak sabar menunggu detik-detik pengumuman itu. Hatiku berdebar-debar saat mendengar siapa saja nama yang dinyatakan lulus. Satu persatu nama disebutkan. Semua yang dinyatakan lulus merasakan satu perasaan. Bahagia.
Nama yang disebutkan sudah semakin banyak. Aku berdoa. Semoga saja aku dapat lulus. Doaku terkabul. Namaku disebutkan. Mikha Elisa Putri. Aku lega. Kekhawatiranku perlahan menghilang dan diganti dengan perasaan senang. Aku tidak sabar untuk pulang dan memberitahukannya pada mama dan papa. Hari ini memang mama dan papa tidak bisa menemaniku ke sekolah. Tapi, itu tidak menjadi masalah bagiku. Melihat wajah mereka yang berseri senang karena tahu aku telah lulus SMP sudah cukup bagiku. Namun, yang kutemukan berbeda dengan apa yang diharapkanku.
Posted by Akbar Wicaksono | File under :
Entah apa yang dirasa saat aku pertama kali mengenalnya, seseorang yang menyebalkan, keterlaluan dan selalu bertingkah berlebihan. Sosok itu semakin sering aku temui karena dia satu jurusan denganku saat Kuliah dulu, Ditambah lagi dia Pria yang dekat dengan Temanku Bernama Arnia. Setiap kali melihatnya hanya ada rasa benci yang menyelimuti perasaanku. Terlebih saat aku melihatnya sedang menjumpai Arnia, Aku berfikir keras mengapa harus Sahabatku?
Mario Aryanto cowo yang memilikki kulit putih dan badan yang tidak teralu tinggi itulah yang kurasa pelengkap warna dalam Kuliahku. Dia memang sosok yang Menyebalkan dan selalu bercanda berlebihan, tapi terkadang juga aku memperhatikannya. Dia sosok yang tidak pernah lelah Mengejar cinta Arnia, Mario rela antar jemputnya, main ke kostan dan terkadang membawa buah tangan Untuk Arnia. Sungguh tidak percaya, Arnia mampu menerima sosok Aryanto dan menjadi cinta pertamanya.
Posted by Akbar Wicaksono | File under :
Di bawah hujan aku terdiam, tak kurasakan butiran air yang menerpaku. Tak kurasakan dingin yang menyelimutiku, dan tak kudengar gemercik air yang jatuh.
Datangnya hujan tak mengusik lamunanku. Sudah 2 jam aku terduduk di halaman belakang rumah, di bawah pohon rambutan. Aku kira, baru seminggu yang lalu aku bersama seseorang yang selalu ada untukku dan yang selalu menemaniku saat tak ada yang bersedia. Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Dia sudah tak ada lagi di sisiku. Dan aku tak bisa melihatnya. Masih terngiang kata-katanya yang terakhir keluar dari mulutnya sepulang sekolah tempo lalu.
Posted by Akbar Wicaksono | File under :
“Gue bete ah, bete banget, bete banget!!”
“Heeh, kenapa sih?”
“Si Hadi. Terlalu perhatian sama gue. overprotective banget. inilah, itulah. Lo tau kan gue orangnya bebas banget, gak suka digituin”
“Lah, bukannya lo yang mau?”
“Maksud lo?”
“Ya waktu Hadi nembak lo, kan lo yang ngajuin syarat kalau dia harus perhatian. gak boleh cuek. harus sayang banget sama lo”
“Tapi gak gitu juga kaleee”
“Hmm.. terserah lo deh. Hadi gitu kan karena dia sayang banget sama lo.”
“Heuuh, lo mah malah belain dia, bukannya belain gue. buat apa gue curhat sama lo”
Posted by Akbar Wicaksono | File under :
“Cuci… cuci sendiri, makan… makan sendiri… ehei”
Nyanyiku terus-menerus, akhir-akhir ini banyak orang-orang yang memanggilku ke rumah mereka, untuk makan, tentu saja bukan, mereka hanya memintaku untuk mencucikan baju mereka, mudah-mudahan ini merupakan sebuah keuntungan, atau mungkin sebaliknya, ah terserahlah… yang penting aku masih bisa mendapatkan uang dan ucapan I love you [Aku mencintaimu] eh, hehe… keceplosan.
“Yang itu sudah selesai?” Tanya Mbak Karis salah satu orang yang memanggilku untuk mencuci baju, atau bisa dikatakan, salah satu pelangganku.
“Sedikit lagi” Jawabku sambil terus mencuci tumpukkan baju ini. Dengan gesit dan cekatan, kupercepat gerakanku, tak mau membuat Mbak Karis menunggu lebih lama lagi.
Keringat bercucuran di dahiku, segera ku lap dengan menggunakan punggung tanganku, senyum terukir di wajahku, akhirnya selesai juga, segera ku bangkit dari dudukku, kubersihkan tanganku dari sisa-sisa sabun, kubalikkan tubuhku menghadap Mbak Karis, dengan sopan kubungkukan badanku sesaat untuk berterima kasih, kulihat dia hanya tersenyum dan memberiku beberapa uang, segera kuambil, ini dia upahku, batinku.

Selasa, 05 November 2013

Posted by Akbar Wicaksono | File under : ,
“Baiklah, jika tidak ada sanggahan maupun pendapat maka rapat kali ini saya tutup dengan bacaan hamdallah”, “Alhamdulillah”. Akhirnya rapat terakhirku bersama kalian semua, membahas tentang pelantikan pengurus OSIS periode 2009/2010 telah usai. 2 jam setengah tak terasa, yang biasanya kita selalu ada canda tawa namun kali ini terasa sangat berbeda. “kayak lagi rapat di gedung DPR aja”, batinku sambil tersenyum melihat teman temanku yang sedang beradu argumen tentang tugas yang diberikan guru mereka. Tidak terasa kebersamaan kita selama 2 tahun akan segera berakhir. Yang biasanya kita selalu bersama-sama, baik makan, tidur, ngerjakan PR dan masih banyak hal hal yang biasa kita lakukan akan terasa berbeda setelah kita tak ada disana.
“Uhh.. jadi tambah sibuk gini, gimana mau fokus kalau ada aja permasalahannya” rintihku menuruni tangga sekolah. Aku berjalan menuju ruang kepala sekolah bersama temanku Rio, bisa dibilang asisten pribadi sih, hehe. Habisnya dia selalu mau aku ajak kemanapun, apa karena dia wakilku juga ya? Hmm. Bisa jadi…
Posted by Akbar Wicaksono | File under : ,
Suatu kisah pribadi yang sepertinya saya harus publikasikan karena sangat sakit jika di pendam
Kisahku kehidupanku saat bersamanya

Aku sangat menyayanginya aku sangat mencintainya

Namun sepertinya dia masih selalu mengingat akan masalalunya

Aku tulis dengan kata dan semoga dapat di mengerti


================================================================

Sadarkah bahwa jika seseorang yang sudah meninggalkanmu dan menyakiti hatimu itu sudah merasakan kebahagiaan lain diluar sana...

Posted by Akbar Wicaksono | File under :
“ma… kaca mata aku dimana?” Icha menggeledah tasnya yang ada di ruang tamu.
“ini sayang.. tadi mama lihat kacamata kamu kotor, jadi mama bersihin” jawab mamanya dengan sangat lembut.
“oh, makasih ya ma.. ya udah aku kuliah dulu ya ma.. Assalamuallaikum”
“Wa’allaikumussalam, hati-hati sayang”
Dengan motor vespa pemberian kakenya Icha bergegas ke kampus, jalan yang biasanya padat merayap kini tampak lancar karena hari masih cukup pagi. Icha memang sengaja berangkat lebih awal karena ia janjian sama Yoga, Icha meminta Yoga untuk menjelaskan materi yang kurang ia kuasai. Yoga adalah teman Icha sejak SMA, kini mereka kuliah di universitas yang sama namun beda jurusan.
Posted by Akbar Wicaksono | File under :
Awalnya aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Melihat senyummu, dan melihat kedipan matamu ke arahku, dan kuterpana oleh lirikan dan senyumanmu. Ku mencari tau tentang dirimu bukan karena aku kepo tapi aku peduli terhadapmu dan kupercaya kau akan memberi harapan kepadaku. Kulalui hari demi hari dengan kepercayaan bahwa kau akan memberi harapan itu.
Aku sering melihat kau tersenyum kepadaku, dan selalu kutunggu kau akan memenuhi harapan itu dalam artian kau akan mengucapkan kata yang selama ini kuharap kau ucap. Saat kau lewat di depanku, ku sangat senang karena harapan itu sudah kau perlihatkan untukku. Tetapi waktu terus berjalan dan seakan perlahan akan menimbulkan goresan tinta air mata di dalam kehidupanku, dan aku takut bila hal itu terjadi.